Penutup Sedekah Bumi Desa Tulakan di Meriahkan dengan Seni Langen Beksan

Penutup Sedekah Bumi Desa Tulakan di Meriahkan dengan Seni Langen Beksan

JEPARA, faktual-news.com – Pemerintah Desa Tulakan yang berada di wilayah Kamituan Pejing menyelenggarakan pertunjukan Tayub sebagai rangkaian acara penutup dalam tradisi Sedekah Bumi di Desa Tulakan, Minggu (26/04/2026).

Pada acara penutupan Sedekah Bumi di Desa Tulakan, hadir sejumlah pihak antara lain Camat Kecamatan Donorojo, Kasi Pemerintahan, Kasi Pelayanan Umum, Kapolsek Kecamatan Donorojo, Ketua BPD beserta anggota, Kepala Desa, Sekretaris Desa, perangkat desa, para Ketua RT dan RW di Desa Tulakan, serta masyarakat setempat

Ahmad Widiyanto, SE., M.M., selaku Camat Donorojo, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas rangkaian kegiatan sedekah bumi, yang mencakup tradisi manganan, prosesi jembul, dan acara petutup.

Penutup Sedekah Bumi Desa Tulakan di Meriahkan dengan Seni Langen Beksan

Dalam kesempatan tersebut, pihak Dinas Pariwisata menegaskan pentingnya pengelolaan tradisi sedekah bumi secara lebih profesional, meriah, dan menarik perhatian masyarakat yang lebih luas.

Mereka berharap tradisi ini tidak hanya menjadi kebanggaan Desa Tulakan, tetapi juga mampu menarik minat dari berbagai wilayah di Kabupaten Jepara dan sekitarnya.

Hal ini semakin relevan mengingat tradisi “Jembul Tulakan” telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI).

Pengakuan ini resmi diberikan pada tahun 2020, menjadikannya satu-satunya tradisi unik semacam itu di Indonesia yang diakui pada tingkat tersebut.

Selain itu Petinggi Desa Tulakan H. A. Budi Sutrisno, S.Pd. menyampaikan

mengenai tradisi “Sedekah Bumi” di wilayah Tulakan menarik untuk dicermati, terutama terkait adanya pelaksanaan sedekah bumi di dua tempat yang berbeda. Tradisi ini memiliki akar historis yang panjang, yang merujuk pada masa pemerintahan Kademangan di Desa Tulakan.

Pada masa itu, pemerintah desa dipimpin oleh Ki Ageng Baroto beserta para wakilnya yang juga menjabat sebagai punggawa dari beberapa wilayah, termasuk Kerajan, Winong, Ngemplak, Pejing, dan Drojo. Menurut penuturan sejarah, khususnya pada era pemerintahan Ki Ageng Baroto, sedekah bumi diselenggarakan secara rutin setiap tahun.

Akan tetapi, situasi yang terjadi pada waktu itu menyebabkan Mbah Cabuk, seorang tokoh sesepuh dari wilayah Kamituan Pejing, tidak dapat mengikuti prosesi sedekah bumi di pusat Kademangan akibat kondisi kesehatannya.

Oleh karena itu, masyarakat di daerah Pejing memohon izin untuk melaksanakan sedekah bumi secara mandiri di wilayah mereka.

Ki Ageng Baroto, yang dikenal bijaksana dan arif dalam memimpin, mengizinkan permohonan tersebut dengan syarat bahwa sedekah bumi di Pejing tidak boleh dilaksanakan bersamaan waktunya dengan pusat Kademangan.

Sebagai ketentuan tambahan, tradisi “jembul,” yang biasanya merupakan puncak acara sedekah bumi di pusat Kademangan pada Senin Pahing, dilarang dilaksanakan di Kamituan Pejing.

Penutup Sedekah Bumi Desa Tulakan di Meriahkan dengan Seni Langen Beksan

Sebagai gantinya, masyarakat Pejing diizinkan melangsungkan tradisi seni “langen beksan” atau Tayub sebagai bagian dari prosesi sedekah bumi dilakukan senin wage.

Ketetapan ini kemudian menjadi dasar bagi pelaksanaan dua tradisi sedekah bumi yang berbeda: satu yang berpusat di Kademangan Tulakan dengan puncaknya berupa acara jembul, dan satu lagi di Kamituan Pejing dengan catatan mengikuti tempo waktu tertentu sesuai adat, dalam pelaksanaan terkini, rangkaian acara sedekah bumi seperti manganan, pagelaran wayang, hingga puncaknya berupa tradisi jembul tetap menjadi ciri khas budaya masyarakat Tulakan.

Aktivitas tersebut bukan hanya ihwal pelestarian budaya leluhur, namun juga berpotensi menjadi daya tarik pariwisata budaya yang mesti mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah.

Sebagai catatan tambahan, terdapat upaya untuk mencatatkan kegiatan manganan ini dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) mengingat jumlah peserta yang sangat besar setiap tahunnya.

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi lokal masih mendapatkan ruang yang signifikan dalam kehidupan masyarakat modern, sekaligus mempertegas identitas serta nilai-nilai luhur budaya yang dimiliki sebuah daerah.

banner 325x300