JEPARA, faktual-news.com – Bulan Suro tiba, wong Jawa ngumbah gaman. Aku Muhammad Bunadi, putra dari Bapak Parnadi almarhum leluhur kita ninggalin warisan ga cuma barang, tapi jiwa yang terus nyala!”
(15/6/2026).
Matahari sudah mulai menyinari halaman belakang rumahku yang terletak di kampung tua Kalinyamat, Jepara. Udara pagi masih sejuk dengan aroma daun sirih dan kemangi yang aku siapkan di atas alas bambu berwarna hitam pekat. Di sebelahnya, sebuah baskom kecil berisi air jeruk nipis yang masih segar dan air kelapa muda yang baru saja diperas dari buah yang masih muda. Di tengahnya, terbaring keris pusaka keluarga yang sudah melewati tiga generasi milik Bapakku almarhum, sebelum itu milik Kakekku, dan sebelum itu dari Buyutku yang dulu menjadi pemangku adat di kampung ini.
Ngumbah gaman bukan cuma bersihin keris doang.
Aku ingat dulu, ketika masih kecil, Bapak selalu mengajakku duduk bersamanya setiap kali bulan Suro tiba. Dia akan membuka lemari kayu tua yang selalu dikunci dengan kunci besi tua, lalu dengan hati-hati mengeluarkan keris ini. “Lihat ini, nak,” ujarnya sambil mengangkat keris dengan kedua tangan, matanya penuh rasa hormat. “Setiap ukiran di sini punya makna sendiri. Bunga melati yang menggulung itu lambang kesucian hati, ular naga yang melingkar adalah perlindungan dari leluhur, dan garis lurus di tengahnya adalah jalan yang harus kita lalui dengan jujur.”
Ini adalah cara kita ngucapin terima kasih pada leluhur, ngingetin diri kita tentang akar kita. Bapakku almarhum selalu bilang: “Keris itu bukan senjata, tapi cermin hati wong Jawa. Kalau dicuci dengan hati bersih, bakal selalu melindungi keluargamu dan tanah air.”
Pada suatu kali, aku pernah melihat Bapak menangis saat membersihkan keris ini. Saat itu aku masih belum mengerti, tapi sekarang aku paham setiap gerakan pelan ketika menyeka bagian bilah keris, setiap sentuhan lembut pada gagangnya yang sudah mengkilap karena sering disentuh, itu adalah cara dia berkomunikasi dengan leluhur. Dia bilang, ketika ngumbah gaman, kita harus merenungkan semua perbuatan kita sepanjang tahun, memohon maaf atas kesalahan yang telah dilakukan, dan berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik.
Hari ini, aku lakukan ritual yang sama kaya yang dulu Bapak ajarin.
Siang bolong, ketika matahari berada tepat di atas kepala, aku mulai memulai ritualnya. Pertama, aku mencuci tangan dengan air kelapa muda sambil berdoa agar hati menjadi bersih. Kemudian, aku ambil daun sirih dan kemangi, membungkusnya dengan lembut di ujung jari telunjuk, lalu mulai menyeka bagian bilah keris perlahan-lahan. Air jeruk nipis digunakan untuk membersihkan kotoran yang menempel, sementara air kelapa muda untuk memberikan kilau dan melindungi besi dari karat.
Sambil pelan-pelan membersihkan setiap ukiran di keris pusaka keluarga, aku ngomong doa dalam hati: “Semoga leluhur selalu beri petunjuk, bulan Suro bawa berkah buat kita semua. Semoga keluarga kita selalu rukun, semoga kampung kita selalu damai, dan semoga budaya yang kita warisi tidak pernah hilang.” Saat itu, aku merasa seolah merasakan tangan Bapak yang sedang membimbing jari-jariku, sama seperti dulu ketika dia masih ada di sisiku.

Setelah keris bersih dan mengkilap, aku meletakkannya kembali di atas alas bambu, lalu menutupinya dengan kain batik merah tua yang juga merupakan pusaka keluarga.
Di sebelahnya, aku menyediakan sesajen sederhana – tumpeng kecil dari beras ketan hitam, telur balado, dan buah-buahan segar seperti pisang dan nangka muda. Semua ini akan aku persembahkan di depan makam Bapak nanti sore hari.
Bulan Suro bukan cuma tahun baru Jawa.
Malam itu, seluruh keluarga berkumpul di rumahku. Kakak-kakakku datang dari berbagai kota, sepupu-sepupuku membawa anak-anak mereka, dan nenekku yang sudah berumur sembilan puluhan duduk di kursi utama dengan wajah yang penuh kedamaian.
Di halaman belakang, kita memasak makanan khas bulan Suro opor ayam dengan telur pindang, sambal goreng ati, pecel dengan bumbu kacang yang khas, dan wajik gula merah yang dibentuk menyerupai lambang kerajaan Kalinyamat.
Aku mengambil keris pusaka dan menunjukkan kepada anak-anak kecil yang sedang penasaran melihatnya. “Ini keris dari kakek kalian yang sudah meninggal,” ujar aku dengan lembut. “Setiap bulan Suro, kita harus membersihkannya dengan hati yang bersih, karena ini adalah bukti bahwa kita punya akar yang kuat dan leluhur yang selalu menjaga kita.” Anak-anak itu mendengarkan dengan seksama, mata mereka berbinar melihat kilauan bilah keris yang diterangi sinar lilin.
Ini saatnya kita kumpul bareng keluarga, cerita-cerita tentang masa lalu, dan janjiin bakal terus lestarinin budaya yang kita banggakan. Dari Bapak almarhum sampai aku – rantai ini ga bakal putus!
Nenekku kemudian berdiri dan mengambil mikrofon kecil yang sudah disiapkan. “Anak-anakku semua,” ujarnya dengan suara yang masih kuat. “Bulan Suro tahun ini sangat berarti bagi kita. Leluhur kita dulu membangun kampung ini dengan tangan mereka sendiri, menjaga laut dan tanah dengan penuh cinta, dan menghargai setiap makhluk yang ada di bumi ini. Kita harus terus melanjutkan warisan itu. Jangan sampai kita jadi generasi yang membuat budaya kita hilang dalam lautan modernitas.”
Setelah itu, kita semua berdiri bersama-sama, mengangkat tangan dan membuat janji bersama: bahwa kita akan selalu menjaga keris pusaka ini, akan selalu merayakan bulan Suro dengan penuh makna, akan selalu menjaga lingkungan sekitar kita, dan akan selalu mempererat tali persaudaraan antar keluarga dan sesama warga kampung.
Saat bulan purnama mulai muncul di atas langit, menyinari setiap sudut halaman rumahku, aku merasa bahwa Bapakku almarhum sedang melihat kita dari atas. Dia pasti bangga, karena rantai kehidupan yang dia wariskan tidak pernah putus – dari dia kepada aku, dan dari aku kepada generasi selanjutnya yang akan datang.













